Jamesisaacneutron’s Weblog

my blog,my place 4 sharing with everyone

Archive for September 16th, 2008

Surabaya Marak Ijazah Instan

Posted by jamesisaacneutron on 16 September 2008

Biasa Dikeluarkan Kampus Papan Bawah

SURABAYA – Ada begitu banyak kampus di Surabaya. Tak semua menapaki jalur lurus dalam dunia pendidikan. Sebagian kampus ditengarai berpraktik kotor. Entah oleh institusi atau oknum, ada beberapa perguruan tinggi swasta (PTS) yang bisa melayani jual-beli ijazah secara instan. Klien membayar, ijazah keluar tanpa perlu kuliah.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, praktik jual beli ijazah biasanya dilakukan di perguruan tinggi yang namanya kurang terkenal di Surabaya. Mereka berani merekrut mahasiswa dadakan dan mengeluarkan ijazah dalam waktu singkat. ”Satu setengah bulan, ijazah saya jadi,” kata pria berinisial MR kepada Jawa Pos.

Dia mengaku mengantongi ijazah S-1 dari salah satu kampus. Padahal, sekali pun dirinya tak pernah masuk kuliah. Dia hanya menyerahkan sejumlah uang dan pasfoto kepada salah seorang oknum yang punya jaringan dengan orang dalam. Hasilnya adalah ijazah lengkap dengan transkrip nilai plus legalisasinya.

MR mengungkapkan, orang yang memesan ijazah bukan hanya dirinya. Penyedia jasa ijazah instan yang membantu menguruskan ijazahnya mengaku telah membikin lebih dari 600 ijazah dalam setahun.

Tengara itu bukan tak disadari oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis). Namun, mereka memang tak bisa berbuat banyak. ”Kami sudah mencoba mengantisipasi dengan Evaluasi Program Studi Berdasarkan Evaluasi Diri (EPSBED),” ujar Koordinator Kopertis Wilayah VII Sugijanto.

Dia menyatakan, sebelum 2001, Kopertis bisa mengontrol PTS-PTS untuk tidak berbuat nakal. Sebab, Kopertis yang mengeluarkan nomor induk registrasi mahasiswa dan nomor induk registrasi lulusan. Dari data itu bisa dicek tahun masuk dan tahun lulus seorang mahasiswa.

Namun, sejak 2001, seluruh PTS mempunyai otonomi untuk mengeluarkan nomor mahasiswa sendiri. Itu terjadi setelah keluarnya SK Mendiknas Nomor 184/2001. Sejak saat itu, Kopertis hanya bertugas mengawasi serta mengendalikan lulusan dari PTS-PTS. ”Karena itu, kami hanya punya data lengkap untuk lulusan sebelum 2001,” jelasnya.

Tahun berikutnya, Kopertis membuat EPSBED untuk mengetahui perkembangan PTS-PTS yang tersebar di wilayahnya. Melalui EPSBED, Dirjen Dikti mengharuskan setiap PTS melapor tiap enam bulan sekali. Dalam laporan tersebut harus dicantumkan jumlah mahasiswa dalam masing-masing program studi, data lengkap mahasiswa, jumlah dosen, dan beberapa pendukung kampus lainnya.

Sayangnya, tidak semua PTS melaporkan keadaan kampusnya kepada Kopertis. Ironisnya lagi, Kopertis sama sekali tidak mempunyai kewenangan untuk memaksa mereka meng-input data. Mereka biasanya hanya memberikan surat teguran. Jika sudah terlampau sering, rektor dari universitas tersebut akan dipanggil ke Kopertis untuk ditanya alasannya.

”Biasanya alasan mereka adalah masih belum bisa meng-input data dengan benar, padahal kami telah memberikan pelatihan berkali-kali gratis,” tegas Sugijanto.

Masalah kedua, kata dia, operator yang bertugas memasukkan data dari PTS sering berganti-ganti. Artinya, tiap semester, PTS nakal tersebut memang melapor ke Kopertis. Namun, mereka hanya melaporkan bahwa kelengkapan datanya kurang atau operator tidak bisa meng-input data.

Ya kami ini kan tidak punya kewenangan atas PTS-PTS tersebut. Satu-satunya sanksi yang bisa kami berikan adalah dengan tidak memberikan hibah dana kepada mereka yang tidak mengisi ESPBED,” ujarnya.

Di Surabaya ada beberapa PTS kecil yang tidak pernah meng-input data sejak ESPBED dibuat. Otomatis Kopertis maupun Dirjen Dikti tidak pernah tahu persis berapa mahasiswa yang dimiliki PTS tersebut dan berapa orang yang diluluskan. Celah itulah yang biasanya dipakai PTS-PTS nakal untuk mencetak sarjana instan dengan menerbitkan ijazah aspal alias asli tapi palsu.

”Kalau seperti itu, kami tidak bisa mengecek karena tidak ada datanya. Kecuali ada laporan dari masyarakat atau dari pusat, baru kami selidiki,” ujar Sugijanto.

Dia juga mengungkapkan adanya kemungkinan kedua. Caranya, PTS yang bersangkutan selalu meng-upload data, namun data tersebut dipalsukan. Mahasiswa yang kuliah hanya mendaftar tanpa perlu mengikuti perkuliahan.

Setelah empat tahun, si mahasiswa bisa langsung mendapat ijazah. ”Nah kalau seperti itu kan kami yang ditipu,” ungkapnya. Jika sampai ketahuan, keabsahan ijazah yang keluar tersebut akan dibatalkan.

Yang jelas, jika ada bentuk-bentuk pelanggaran seperti itu, Kopertis akan melakukan klarifikasi dalam bentuk surat, mendatangkan saksi ahli, atau terjun sendiri ke lapangan. ”Jika pelanggarannya berat, ya biar hukum yang menangani,” tegasnya. (sha/dos)

sumber: http://www.jawapos.com

Posted in opini | Tagged: , , | Leave a Comment »

Haji Syaikhon, Juragan Kulit Dermawan yang Terseret Tragedi Zakat Maut

Posted by jamesisaacneutron on 16 September 2008

Sebar Keluarga Terdekat, Cari Penerima sampai Pelosok

Tragedi ”zakat maut” di Pasuruan, Jawa Timur, membuat Haji Syaikhon, 55, disorot. Padahal, haji kaya raya itu sudah berkali-kali membagikan zakat untuk hartanya kepada ribuan orang. Siapa dia dan mengapa tahun ini tradisi mulianya itu berakhir derita?

NURLAILY A. – FANDY A, Pasuruan

Di Kota Pasuruan, keluarga Haji Syaikhon memang dikenal sebagai keluarga berada nan dermawan. Selain pengusaha kulit, dia menjadi pedagang mobil sekaligus peternak sarang burung walet. Lahan sawahnya pun di mana-mana.

Rumah yang ditempati keluarga Syaikhon cukup besar. Bangunan berlantai dua itu berdiri megah di areal sekitar 4.000 meter persegi di tengah Kota Pasuruan. Di sebelahnya ada bangunan yang dijadikan sarang burung walet.

Di dalam rumah bercat hijau muda dengan pagar besi setinggi dua meter tersebut terdapat dua mobil, Suzuki Karimun pink dan Mercedes-Benz. Rumah itu juga dilengkapi parabola.

Di halaman rumah terdapat aneka binatang peliharaan. Salah satunya monyet. Setidaknya, ada tiga primata di kandang rumah Syaikon. Halaman rumah yang asri dengan pepohonan mangga dan mengkudu itu juga dihiasi taman lengkap dengan reliefnya.

Usaha kulit sapi Syaikhon sudah menjadi usaha turun-temurun keluarga. Setelah Syaikhon meneruskan usaha orang tuanya, kini giliran anak-anak Syaikhon yang ikut membesarkan usaha tersebut. ”Ayah saya mengumpulkan kulit-kulit sapi dari para tukang jagal. Setelah dikumpulkan, kulit-kulit tersebut kami bersihkan,” kata Vivin, 30, putra tertua Syaikhon.

Setelah dibersihkan, kulit-kuli sapi tersebut dimasak, kemudian dilipat rapi untuk dijual ke pabrik pengolah kulit. Biasanya, kulit-kulit itu dijual ke sebuah pabrik di Purwosari, Kabupaten Pasuruan.

Di mata kerabatnya, Syaikhon dinilai agak tertutup. Dia dikenal memiliki banyak profesi. Mulai jual-beli mobil, usaha sarang burung walet, sampai bisnis terbesarnya, yakni pengepul kulit sapi. ”Setiap tahun memang mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Tapi, saya tidak tahu persis berapa nilainya,” ungkap salah seorang kerabat Syaikhon yang tidak mau namanya dikorankan.

Orang-orang terdekat Syaikhon memang tidak pernah ambil pusing soal besarnya harta dan banyaknya zakat yang dikeluarkan setiap tahun. Namun, kalau soal pembagian zakat, mereka sering mengingatkan agar pembagian itu tidak dilakukan secara terbuka. Memang, dalam bagi-bagi zakat seperti kemarin, Syaikhon hampir tidak banyak melibatkan orang lain, selain keluarga intinya.

Yang menjadi ketua panitia tidak lain adalah putranya. Seperti ketika kejadian maut yang menjemput nyawa 21 pengantre zakat kemarin, ketua panitia diserahkan kepada putra kedua Syaikhon, Faruq, 28. Tapi, dalam praktiknya, dia dibantu kakaknya, Vivin.

Kedua putra Syaikhon itulah yang mengoordinasi beberapa orang yang dilibatkan sebagai panitia. ”Tapi, setiap tahun juga mereka tidak pernah sekalipun melibatkan aparat kepolisian,” ujarnya.

Setiap dianjurkan untuk melibatkan aparat, keluarga Syaikhon selalu berkilah bahwa mereka sudah meminta bantuan orang-orang ”kuat” untuk membekingi acara bagi-bagi zakat tersebut. Tidak ada alasan mengapa harus memilih membagikan zakat secara terbuka tanpa kupon, sehingga massa yang antre tidak bisa dibendung.

Para kerabat dekat Syaikhon mengaku sering miris melihat antrean panjang yang selalu mengular setiap ada pembagian zakat di sana. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, itu sudah menjadi hak sepenuhnya Syaikhon dan keluarga.

Beberapa saat setelah kejadian, Syaikhon beserta dua putranya, Vivin dan Faruq, serta beberapa kerabat yang ikut membantu pembagian zakat tersebut diperiksa di Mapolresta Pasuruan. Mereka dimintai keterangan sejak pukul 12.30.

Hanifa, 50, istri Syaikhon, beserta anak ketiga dan keempatnya, Lely, 24, dan Haidar, 21, tak tampak saat itu.

Saat ditemui Radar Bromo, air muka Syaikhon dan kedua putranya masih tampak terkejut campur lelah. Syaikhon belum bersedia diajak berbicara. Hanya putranya, Vivin dan Faruq, yang mau memberikan keterangan kepada media. ”Saya terpaksa batal (puasa), Mas. Kejadian ini di luar dugaan kami,” ungkap Vivin lemah kepada Radar Bromo.

Bagi-bagi uang menjelang Lebaran menjadi kebiasaan Syaikon sejak enam tahun lalu. Semula, uang yang dibagikan Rp 10 ribu per orang. Saban tahun uang sedekah dinaikkan Rp 5.000. Karena itu, kejadian pengantre zakat pingsan sebenarnya bukan hal baru. Sayangnya, kejadian itu tidak kunjung dijadikan pelajaran.

Berdasar catatan Radar Bromo, tahun lalu, tepatnya 27 September 2007, pembagian zakat Syaikhon juga bermasalah. Saat itu, setiap penerima mendapat zakat Rp 25 ribu. Pembagian zakat saat itu difokuskan di depan rumah Syaikhon. Seperti yang terjadi tahun ini, tidak ada aparat keamanan yang dilibatkan untuk mengamankan kegiatan tersebut. Satu-satunya pengaturan hanya pemberian tinta merah (dari bahan pewarna) di jari para calon penerima.

Akhirnya, terjadi desak-desakan warga. Memang tidak sampai jatuh korban jiwa tahun lalu. Tapi, ada sekitar empat perempuan tua yang jatuh pingsan. Beberapa orang lainnya sampai tercebur sungai selebar 1,5 meter yang melintang di kampung tersebut.

Menurut Vivin, bapaknya mengeluarkan zakat mal dengan cara itu sejak 1980. ”Ayah selalu menyisihkan hartanya sebesar 2,5 persen. Sejak 1980, harta tersebut ayah keluarkan dalam bentuk uang kepada masyarakat,” jelasnya.

Uang zakat tersebut dibagikan setiap tanggal 15 Ramadan. ”Pembagiannya selalu dilakukan di lingkungan rumah kami,” ujarnya. Siapa saja yang menerima zakat tersebut? ”Para duafa,” katanya.

Menurut Vivin, kerabat-kerabatnya yang tinggal di beberapa daerah disuruh mengumpulkan warga sampai pelosok yang masuk golongan duafa. Pada 2007, kata dia, ayahnya mengeluarkan zakat total Rp 75 juta. Zakat itu dibagikan dengan cara yang sama dengan kemarin. Hanya, tahun lalu masing-masing orang menerima Rp 25 ribu.

Untuk pembagian kemarin, per orang menerima zakat Rp 30 ribu. ”Ayah telah mengambil uang Rp 50 juta untuk dikeluarkan sebagai zakat. Biasanya kalau kurang, ngambil lagi ke bank sebanyak yang dibutuhkan,” jelas Vivin. Tapi, sebelum uang Rp 50 juta itu terbagi seluruhnya, terjadi insiden maut tersebut.

Menurut dia, tewasnya 21 orang itu di luar perkiraan keluarganya. Dia tidak mengetahui akhirnya massa datang membanjir begitu banyak. Yang dia tahu, musala ayahnya tersebut sudah dipenuhi warga. ”Padahal, tahun lalu tidak sampai begini (sampai jatuh korban tewas, Red). Walau tahun lalu situasi juga ramai, kami masih bisa mengendalikan massa,” tegasnya.

Faruq, putra kedua Syaikhon, menambahkan, dulu sebenarnya pernah memakai kupon untuk pembagian zakat. Namun, hasilnya tidak efektif. ”Waktu itu orang yang curang selalu balik kembali untuk meminta uang lagi. Makanya, kami tidak lagi memakai cara seperti itu,” katanya.

Akhirnya mereka memilih cara pencelupan jari dengan tinta seperti coblosan. Tapi, tintanya menggunakan pewarna biasa. ”Itu saja masih ada orang yang balik lagi. Sampai saya kejar dan keluarkan warga tersebut,” tegas Vivin.

Faruq pun menyatakan tidak pernah sampai terpikir memakai jasa pengamanan dari kepolisian. ”Dari pengalaman sebelumnya, keluarga kami saja sudah berhasil mengawasi kondisi,” ujarnya.

Keduanya mengaku menyesalkan massa yang nekat dorong-mendorong. ”Saya benar-benar tidak tahu kalau jumlah warga bertambah banyak. Yang saya sesalkan, massa tidak sabar, terus berdorong-dorongan,” ungkap Faruq.

Dorong-mendorong itulah yang menyebabkan jatuhnya banyak korban meninggal karena terinjak dan kehabisan napas. ”Kalau tahu begini, saya memakai pengamanan,” katanya.

Vivin yang siang itu memakai baju motif garis-garis menyatakan rela dirinya beserta keluarga diperiksa polisi. ”Semua masalah pasti ada jalan ke luar,” ujarnya.

Dia mengungkapkan lain kali akan mengubah cara pembagian zakat. ”Mungkin kami akan memakai jasa pengamanan,” tuturnya. (*)

sumber: http://www.jawapos.com

Posted in berita | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Didi ”Kabayan” Petet; Tobat Rokok setelah Menikah

Posted by jamesisaacneutron on 16 September 2008

Ngemil, Deng Deng Deng Jadi Gemuk

Aktor kawakan Didi Petet mengaku tak punya resep khusus untuk berhenti total dari rokok. Lantas, apa yang membuatnya “bertobat” dari tembakau?

Siapa yang tak kenal Didi Petet? Aktor senior ini sangat populer ketika memerankan tokoh banci Emon dalam film Catatan si Boy dan tokoh jenaka si Kabayan dalam film Si Kabayan Saba Kota.

Ditanya soal rokok, dia mengaku sempat menjadi pecandu. Didi merokok sejak umur 16 tahun, ketika duduk di bangku SMA. Awalnya, dia coba-coba karena mengikuti teman-temannya.

Ketika kuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), kebiasaan merokoknya terus berlanjut. “Sehari saya bisa habis satu bungkus,” cerita pemilik nama asli Didi Widiatmoko itu ketika ditemui di sela audisi tambahan pemain film Ketika Cinta Bertasbih di Menara 165, Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Selama menjadi perokok, berbagai tipe sudah dicoba, mulai keretek, rokok impor, hingga filter. Beruntung, selama menjadi perokok, Didi tak pernah terkena sakit parah gara-gara kebiasaan “nyepur-nya” itu.

Setelah lulus kuliah di IKJ, beberapa tahun kemudian, Didi menikah. Ketika berumah tangga itulah, Didi mulai berhenti dari kebiasaan merokok. “Saya cuma merasa bahwa pada saat itu merokok tidak sehat. Itu saja,” ujar pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1956, itu.

Mungkin karena tekad untuk berhenti sangat kuat, kata Didi, tidak ada kesulitan baginya untuk menjauhi rokok. “Bagaimana caranya stop, ketika itu langsung saja stop. Jadi, nggak harus ganti rokok jenis yang lebih ringan dulu kadar (nikotin dan tar)-nya atau apa. Matikan, selesai,” cerita pria yang juga menjadi dekan di Fakultas Seni Pertunjukan IKJ itu.

Karena sudah berhenti total dari rokok, ada konsekuensi yang harus dialami Didi. Dia gemar makan dan ngemil. Akibat kebiasaan tersebut, tubuh Didi kian melar. “(Setelah berhenti merokok) itu, langsung deng deng deng deng (berat badan terus meningkat, Red), gemuklah saya. Tapi, ya nggak apa-apa, yang penting, alhamdulillah sehat,” tuturnya.

Hingga kini, Didi benar-benar sudah berhenti merokok. Dia tak pernah merasa kangen dengan kebiasaan “nyepur-nya” itu. Meski ada teman yang merokok, Didi sama sekali tidak tergoda. “Saran saya, ketika Anda sudah bertekad untuk berhenti merokok, jangan coba-coba lagi,” kata Didi.

Setelah tobat dari rokok, Didi merasa heran ketika ingat dulu menjadi pecandu rokok. “Saya sering heran, kenapa dulu saya kok suka sekali dengan rokok,” katanya. Pernah suatu ketika, karena tuntutan peran, Didi terpaksa harus merokok. “Saat itulah, saya rasakan rokok itu pahit sekali. Tapi, dulu saya kok suka ya?” ujarnya lantas tertawa.

Didi kini bersyukur, di keluarganya tak ada yang punya kebiasaan merokok. “Saya berpikir, kasihan juga keluarga saya kalau saya masih menjadi perokok. Tapi, karena saya tidak merokok, lingkungan di rumah jadi nyaman karena tidak ada asap rokok,” ucapnya.

Didi menyarankan kepada semua perokok agar segera berhenti. Asal niatnya sudah kuat demi kesehatan, kata dia, tidak ada yang sulit. “Tapi, usul saya, para kiai juga berhenti merokok dong. Jadi, semua ikutlah. Lah, kalau kiainya merokok, orang-orang bilang yang dijadikan contoh saja merokok?” imbuhnya.

Bagaimana industri rokok di tanah air yang sudah telanjur banyak menyerap tenaga kerja? Didi mengusulkan agar produk rokok Indonesia diekspor saja. (gen/kum)

sumber:http://www.jawapos.com

Posted in opini | Tagged: , , | Leave a Comment »

Siti Khadijah Potret Keadilan Gender

Posted by jamesisaacneutron on 16 September 2008

Oleh Siti Zuhro *

Seperti tersurat dalam surat al Ahzaab (33), ayat 21, sejarah kehidupan Nabi Muhammad merupakan teladan agung (uswatun hasanat) yang harus ditiru umatnya. Termasuk di dalamnya sejarah kehidupan dengan Siti Khadijah, istrinya.

Adalah jelas bukan kebetulan bila Nabi Muhammad beristrikan Siti Khadijah, salah seorang “konglomerat” wanita di kota kecil Makkah pada saat itu. Tanpa bantuan peran ekonomi istrinya, sulit dibayangkan Nabi Muhammad bisa bertapa berhari-hari di Gua Hira. Dengan kemampuannya Siti Khadijah bertindak sebagai penyedia logistik bagi kebutuhan suaminya tersebut.

Bantuan ekonomi Siti Khadijah juga dilakukan dalam membantu suami tercintanya tersebut menegakkan syiar Islam. Berkat kerja sama yang baik dan saling mengisi di antara keduanya, syiar Islam pun tumbuh dengan sukses.

Selain pamannya, Abi Thalib, Siti Khadijah adalah orang yang dipandang Nabi Muhammad sebagai bumper terdepan dalam perjuangan dakwah Islam yang dilakukannya. Maka, ketika keduanya wafat di tahun yang sama, Nabi Muhammad seperti orang yang kehilangan kedua tongkatnya. Kegundahan dan kesedihan mendalam Nabi Muhammad tersebut tercatat dalam sejarah Islam sebagai tahun kesedihan (aamul huzni) Nabi.

***

Sebagai istri Nabi Muhammad, peran Siti Khadijah sebagai pengusaha jelas menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal dikotomi gender. Sesuai kemampuannya di sektor ekonomi, Siti Khadijah memperlihatkan peran besarnya di dunia publik. Kerja sama yang manis dan saling mengisi antara Nabi Muhammad dan istrinya di dunia publik yang berbeda menjadi salah satu kunci sukses mereka dalam membangun bahtera rumah tangga dan sekaligus dalam membangun umat dan agamanya.

Melihat hal itu dikotomi gender yang menempatkan perempuan di dunia privat (private sector) dan laki-laki di dunia publik (public sector) kehilangan argumentasi agamanya. Dikotomi tersebut muncul karena kuatnya dominasi tafsir yang bersifat patriarchal dan ahistoris.

Apa yang dilakukan Siti Khadijah bukan saja telah menggugurkan persepsi umat tentang dikotomi gender atas dasar seks, melainkan juga secara kasat mata telah menggugurkan dalil-dalil agama yang membenarkan kedudukan perempuan di dunia privat.

Pada masa Nabi Muhammad jumlah perempuan yang sukses di dunia publik jelas sangat sedikit dan bersifat elite. Pada masa itu mayoritas perempuan nyaris tak ada harganya, kecuali untuk menghamba pada laki-laki. Bahkan, perempuan juga tak memiliki hak waris.

Maka, ketika Nabi Muhammad memberikan hak waris kepada perempuan, meskipun haknya hanya setengah dari laki-laki, hal tersebut merupakan terobosan besar dan berani yang dilakukan Nabi pada zamannya.

Terobosan itu mestinya dimaknai sebagai spirit agama yang menempatkan hak dan status perempuan yang sama dengan laki-laki di dunia publik. Sebab, seperti halnya laki-laki, perempuan pun merupakan bagian dari angkatan kerja yang potensial. Seperti halnya laki-laki, perempuan juga memiliki bakat dan kemampuan beragam. Yang membedakan keduanya hanya seksualnya dan bukan gender.

Sayang, spirit Nabi untuk menempatkan persamaan status sosial wanita di dunia publik tersebut dibaca kebanyakan ahli tafsir secara tekstual dan bukan kontekstual. Tafsir-tafsir yang ada akhirnya jadi kering karena kehilangan latar belakang sosiologisnya.

Padahal ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi sejatinya tidak turun di dunia yang hampa yang tak berpenghuni. Justru melalui tafsir kontekstual tersebutlah ajaran Islam memperlihatkan universalismenya. Sayang tafsir tersebut masih terlalu lemah untuk meruntuhkan dominasi tafsir tekstual yang bukan saja dianut oleh mayoritas umat Islam laki-laki, melainkan juga mayoritas perempuan.

Tampaknya tantangan terbesar yang dihadapi kaum perempuan untuk memperoleh kesetaraannya justru berasal dari mereka sendiri. Tidak sedikit “nada miring” yang dilontarkan kaum perempuan terhadap kaumnya yang dinilai terlalu aktif di dunia publik.

Ironinya, sangat sedikit pula perempuan yang memiliki kedudukan strategis di dunia publik, termasuk di birokrasi dan politik, yang memanfaatkan kedudukannya untuk mengangkat, memberikan kesempatan, dan memperjuangkan hak-hak kaumnya di dunia publik.

***

Tafsir tekstual yang dianut mayoritas umat Islam telah merugikan perkembangan ekonomi, sosial, dan politik umat itu sendiri. Tidak sedikit potensi perempuan di dunia publik menjadi terabaikan. Akibatnya, persentase keterlibatan mereka di dunia publik sangat memprihatinkan.

Sekadar catatan, sensus penduduk 2000 menunjukkan bahwa proporsi penduduk perempuan Indonesia mengalami penurunan (meski tidak signifikan) dari 1990 yang biasanya di atas 50 % menjadi 49,9 %. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam menunjang kemajuan pembangunan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Beberapa contoh berikut justru memperlihatkan masih besarnya dampak negatif atas diskriminasi gender.

Pertama, tingkat buta huruf perempuan usia 10 tahun ke atas berkisar 2-3 kali lipat dibanding laki-laki. Kedua, dari setiap 25 pejabat eselon I & II di birokrasi pemerintah hanya satu perempuan. Ketiga, mayoritas (sekitar 54%) guru SD adalah perempuan, tetapi yang menjadi kepala SD kurang dari 15%.

Lebih dari itu, pada Pemilu 1999 lebih dari 57% pemilih adalah perempuan, namun yang duduk di DPR dan DPRD rata-rata kurang dari 9%. Bahkan, di beberapa DPRD kabupaten/kota ada yang tidak memiliki wakil perempuan. Jumlah kepala daerah (bupati) perempuan masih tak sampai lima jari, sementara jumlah gubernur perempuan tercatat baru satu orang.

Sebagai bangsa yang agamis, tantangan terberat yang harus dilakukan kaum perempuan untuk memperoleh haknya yang sama di dunia publik adalah menepis dogma-dogma agama yang ditafsirkan dalam sudut pandang laki-laki. Dogma-dogma tersebut bukan saja menyingkirkan hak-hak perempuan di dunia publik, melainkan juga telah memperlakukan perempuan secara tidak adil. Sebab, kenyataannya terlalu banyak perempuan yang harus berperan ganda, baik di dunia privat (rumah tangga) maupun di dunia publik (mencari nafkah) untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya. Bahkan, dalam banyak krisis ekonomi, perempuan justru tampil sebagai “tentara cadangan” (reserved army) penyelamat ekonomi keluarga.

*. Siti Zuhro Ph.D , peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan di the Habibie Center Jakarta

sumber: http://www.jawapos.com

Posted in islam | Tagged: , , , | Leave a Comment »

kebakaran di komplek sekolah dr.sutomo surabaya

Posted by jamesisaacneutron on 16 September 2008

Kebakaran di SMA-SMP dr Soetomo dan UKM Universitas dr Soetomo

SURABAYA – Kebakaran besar kembali terjadi. Kali ini giliran kompleks SMA dan SMP dr Soetomo serta gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas dr Soetomo (Unitomo) dilalap si jago merah, Minggu (14/9) malam. Sedikitnya 16 ruang beserta isinya hangus.

Beberapa saksi mengatakan, api berasal dari gedung UKM Unitomo. Gedung itu sebenarnya hanya terdiri atas dua ruangan ukuran 5 x 6 meter. Mahasiswa kemudian membangun sekat-sekat dari tripleks agar daya tampungnya lebih banyak. Dua ruang itu paling tidak menjadi markas beberapa UKM. Antara lain, paduan suara dan musik.

Sunarko, mahasiswa Fakultas Teknik, menuturkan, ruang tersebut dilalap api sekitar pukul 22.00. Saat itu dia berada di warung dekat kampus ketika petugas keamanan kampusnya memberi tahu bahwa ruang UKM terbakar.

Mahasiswa asli Bojonegoro itu kemudian meluncur ke gedung UKM. ”Api sudah besar saat saya datang. Tapi, api masih di salah satu ruang UKM, belum ke gedung lain,” tutur lelaki berambut keriting itu.

Karena itu, dia hendak membuka ruang yang belum terbakar dan menyelamatkan barang-barang. Namun, seluruh pintu terkunci. Tidak ada mahasiswa di situ. ”Saya sebenarnya juga mau menyelamatkan laptop. Tapi, karena terkunci, ya tidak bisa,” katanya.

Malam itu, tutur Narko, kebanyakan mahasiswa sedang ngopi di warung. ”Teman-teman kalau jam segitu kan biasanya makan atau ngopi. Soalnya, baru terawih dan buka puasa.” Katanya.

Akibatnya, lebih dari setengah jam api menjalar tanpa perlawanan berarti. Api tidak merambat ke arah utara gedung. Api justru merambat ke selatan dan membelok ke sisi barat bangunan. Mulai sekretariat BEM, ruang olahraga, ruang multimedia, ruang komputer, ruang guru, dan seterusnya (lihat grafis).

Api kemarin menghanguskan 16 ruang. Dari pihak Unitomo, dua ruang UKM dan satu ruang yang berisi beberapa sekretariat BEM Fakultas. Sementara, tujuh ruangan SMA ludes dilalap api. Yakni, satu ruang olahraga, ruang multimedia, ruang komputer, gudang, dan tiga kelas. Di SMP dr Soetomo, enam ruang hangus. Yakni, dua kelas, satu ruang guru, laboratorium kimia, fisika, dan biologi.

Narko mengatakan, saat merambah ke ruang lain, angin sedang berembus kencang. Karena itu, api tidak menjalar ke sisi utara ruangan. ”Api seperti diarahkan oleh angin. Anginnya kencang,” katanya.

Sekitar pukul 22.45 petugas PMK berdatangan. Hampir seluruh armada PMK dari seluruh wilayah Surabaya dikerahkan. Antara lain dari PMK Pasar Turi empat armada, Wiyung, dan Tambak Rejo, masing-masing dua armada. Total terdapat 17 armada PMK yang datang dalam waktu berbeda. ”Semua armada seluruh Surabaya ke sini,” kata Abdul Halim, komandan Operasional UPTD PMK Wiyung.

Kasus tersebut kini dilimpahkan ke Reskrim Polres Surabaya Timur. Kasatreskrim Polres Surabaya Timur AKP Agung Marlianto belum berani memastikan penyebab api. Sebab, tim labfor masih menelitinya.

Agung mengaku sudah menginterogasi kepala SMP, SMA, dan perwakilan pihak Unitomo. ”Informasi awal memang dari korsleting listrik. Tapi, kami masih menunggu hasil labfor,” katanya.

Setelah kebakaran, siswa SMA diliburkan satu hari kemarin (15/9). Itu pun hanya kelas X yang sebagian besar kelasnya terlalap api.

”Besok (hari ini, Red) mereka kembali beraktivitas. Mereka belajar di lantai dua gedung H Unitomo,” kata Kepala SMA dr Soetomo Mudhafir.

Hal serupa terjadi di SMP. Namun, aktivitas belajar mengajar tidak seberapa terpengaruh. Sebab, saat ini siswa mengikuti pondok Ramadan. ”Itu pun dilakukan dengan bergiliran, siswa putra dan putri,” kata salah seorang guru.

sumber:http://www.jawapos.com

Posted in berita | Tagged: , , , | 2 Comments »

‘City, Sandungan Arsenal ke Liga Champions’

Posted by jamesisaacneutron on 16 September 2008

London – Manchester City mungkin belum akan jadi penantang juara Premiership musim ini. Namun dengan dana besar yang dimiliki, The Citizen bisa mengancam Arsenal di perebutan tiket Liga Champions.

Dengan dominasi Manchester United dan Chelsea dalam tiga musim terakhir, dua tiket pertama Liga Champions hampir bisa dipastikan menjadi milik kedua klub tersebut. Adalah Arsenal dan Liverpool yang kemudian memperebutkan dua tiket terakhir yang didapat dengan duduk di posisi tiga dan empat klasemen.

Meski dalam beberapa musim terakhir keempat tiket Liga Champions selalu menjadi milik The Big Four itu, namun untuk musim ini peluang terjadinya perubahan terhitung sangat besar. Penyebabnya adalah banyak klub yang klub yang kini punya modal sangat besar demi memperkuat skuad mereka.

“Musim ini tim lain bisa membuat kejutan seperti Manchester City, Tottenham atau Portsmouth. Jelas sekali ini akan menarik dan berlangsung ketat. Manchester City memiliki keuntungan karena mereka punya banyak uang,” ungkap Arsene Wenger di The Sun.

Hal lain yang makin membuat Wenger was-was adalah jadwal bertanding The Gunners dikaitkan dengan waktu jatuhnya jendela transfer tahap dua. Untuk kali pertama, Arsenal baru akan bertanding 19 kali saat transfer window kedua dibuka.

Hal ini berarti bahwa paruh kedua musim akan lebih panjang dari paruh pertama. Ini bisa membahayakan jika menimbang klub-klub lain banyak melakukan pembelian sepanjang Januari nanti.

“Tahun ini, untuk kali pertama, bursa transfer Januari dibuka sat kami baru bermain 19 laga. Sebelumnya saya sempat menjalani musim di mana harus bermain 24 kali (sebelum jendela transfer kedua dibuka), kali ini paruh kedua musim jadi lebih panjang. Sebuah tim bisa menjadi lebih seimbang jika menambah pemain di bursa transfer,” pungkas Wenger.

sumber:http://www.detiksport.com

Posted in Arsenal | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Chelsea Akan Banding Kartu Merah Terry

Posted by jamesisaacneutron on 16 September 2008

London – Merasa tak puas dengan hukuman kartu merah yang dijatuhkan wasit pada John Terry, kubu Chelsea berencana mengajukan banding atas putusan tersebut.

Terry mendapat kartu merah langsung dari wasit Mark Halsey ketika Chelsea menundukkan Manchster City akhir pekan lalu. Kapten The Blues itu dianggap menahan laju Jo yang akan melakukan serangan balik di penghujung babak kedua.

Usai pertandingan Luiz Felipe Scolari mempertanyakan keputusan wasit yang langsung menghadiahi pemainya kartu merah. Dalam pandangannya bek tengah internasional Inggris itu tak selayaknya langsung diusir ke luar lapangan.

Menindaklanjuti ketidakpuasan tersebut, kubu Chelsea berencana mengajukan banding. Komisi Disiplin FA akan melakukan hearing atas banding tersebut pada Selasa (16/9/2008) ini waktu setempat. Demikian diberitakan Eurosport.

Kerugian Chelsea bukan sekedar merasa diperlakukan dengan tidak adil oleh wasit. Kartu merah yang didapat Terry membuatnya akan absen saat menghadapi Manchester United di Liga Inggris akhir pekan ini. Kondisi yang tentunya sangat merugikan pasukan “Si Biru”.

Sementara itu FA telah mengkonfirmasi kalau pelanggaran yang dilakukan Terry bukan merupakan pelanggaran profesional yang biasa dilakukan pemain terakhir di zona pertahanan.

Otoritas sepakbola Inggris itu menganggap Terry melakukan jenis pelanggaran brutal yakni pelanggaran “dilakukan dengan melanggar pemain yang membawa bola dari arah depan, samping atau belakang dengan menggunakan kedua kakinya, yang dilakukan dengan tenaga besar dan berpotensi membahayakan pemain lawan”. ( lin / din )

sumber: http://www.detiksport.com

Posted in soccer | Tagged: , , , , | Leave a Comment »